Catatan Supardi

Malam ‘bersama’ Farid Gaban

‘Tulislah pengalaman anda, karena siapa tahu ada orang lain yang tidak mengalami pengalaman itu- Mardiyah chamim, Direktur Eksekutif Tempo Institute.

xv4YvqhE
@faridgaban

Malu rasanya mengakui kebodohan diri sendiri, tapi ini nyata. Di sore sampai malam ini, saya baru mengenal wartawan senior yang bernama Farid Gaban. Alasannya sederhana, mungkin kurang baca buku.

Perkenalan ini berawal dari Google Book, saya mencari buku karya Dandy Dwi Laksono yang berjudul Jurnalisme Investigasi. Setelah membaca beberapa bagian yang ada disana, barulah menemukan nama Farid Gaban ini.

Dari buku itu, baru kutahu bahwa Farid ini wartawan perang dari Tempo yang pernah meliput di Bosnia pada tahun 1992 (wah.. tahun itu, saya belum lahir).

Namun tahun berikutnya, dari 1992-1997 pindah ke Harian Republika. Sialnya, satu tahun sebelumnya berakhir masa Orde Baru tahun 1998 itu, ia harus keluar dari Harian Republika. Alasannya sederhana namun ‘jleb’, karena Harian Republika menetapkan Harmoko sebagai Man Of The Year. Ini pengakuannya kepada Hasan Aspani, Pemimpin Redaksi Batam Pos, saat ia singgah di batam sewaktu menjalankan Ekspedisi Zamrud Khalulitiwa mengelilingi Indonesia pada tahun 2009-2010.

Dari pengakuan Hasan, saat Farid menjelaskan alasannya itu, tanpa ada kesan melebih-lebihkan, menonjolkan idealisme, atau menyombongkan diri, ia menjelaskannya dengan nada biasa saja.

Pengakuan Hasan itu bisa dibaca pada kolomnya yang berjudul Farid Gaban singgah di Batam.

Selepas dari Harian Republika, ia kembali ke Tempo dari tahun 1999-2005. Di Tempo, ia menjabat sebagai Redaktur Pelaksana. Ia menulis laporan-laporan investigatif.

Berakhir di Tempo, ia menlanjutkan sebagai jurnalis freelance dan sekarang sepertinya sibuk di Geotimes.

Farid Gaban ini pernah mengenyam pendidikan di ITB, Jurusan Tata Kota. Walau sekarang ia tak lagi di Tempo, tapi cintanya dengan Tempo tak pernah luntur. Buktinya masih mengkritisi Tempo apabila menurutnya ada ‘noda’ yang menempel, salah satunya adalah tentang pemberitaan tempo tentang MUI.

Tahun 2013, ada cerita lucu tentang Farid ini, ia harus menutup akun twitternya karena terikat janji bahwa kalau Anas Urbaningrum terbukti menerima uang panas pada Kasus Hambalang, maka akun berlogo burung itu akan berahir. Janji ini, karena ia yakin Anas tak akan korupsi, namun keyakinannya salah, karena KPK menetapkan Anas sebagai tersangka.

***

Prihal Farid, banyak berhambur di internet. Ia wartawan yang tulisannya terus mengalir. Baginya, mencari ide tulisan syaratnya dengan peka. Misalnya, mengamati lingkungan, menulis catatan harian, atau wawancara, reportase, riset kepepustakan dan sebagainya.

Dalam penuturan penulisan pun ia memberikan referensi: Dialog (Umar Kayam), Reflektif (Goenawan Mohamad), Narasi (Faisal Baraas, Bondan Winarno, Ahmad Tohari) dan Humor/Satir (Mahbub Junaedi).

Farid telah menerbitkan buku, salah satunya Belajar Tidak Bicara (saya belum baca #polos).

 

Ahmad Supardi

Terima kasih Shela on 7 telah menemani malam ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s